Seni purba Kakadu

Davidson's Arnhemland Safaris - Seni batu, Gunung Borradaile, Arnhemland, Kakadu, NT

Seni purba Kakadu

Saksikan kekayaan seni cadas kaum Aborigin dalam keajaiban budaya kami yang terdaftar sebagai Warisan Dunia.

Di antara lahan basah, margasatwa dan ngarai yang berbukit-bukit, Taman Nasional Kakadu yang terdaftar sebagai Warisan Dunia memiliki salah satu kawasan dengan seni cadas terbanyak dunia.  Sebanyak 5.000 situs Aborigin telah ditemukan di sini, termasuk seni cadas, tempat bernaung, perkakas batu, batu asah dan oker untuk upacara.  Catatan kehidupan yang terperinci dan dramatis di Kakadu ini membawa kita ke 50.000 tahun yang lampau – sejak bukti pertama hunian manusia hingga kedatangan bangsa Eropa. 

Keluarga Aborigin dahulu berkemah dalam gua batu di sekitar Ubirr di sebelah timur laut Kakadu, dan saat ini Anda dapat melihat lukisan ikan dan binatang yang mereka buru.  Barramundi, ikan berkumis, belanak, biawak, penyu, posum dan walabi berjajar di dinding belakang galeri utama dalam suatu untaian kisah kehidupan yang kaya.  Anda juga dapat melihat beberapa contoh seni sinar-X terbaik di dunia – di mana tulang dan organ tubuh binatang dapat dilihat dengan jelas seperti bagian tubuh luar mereka – di dalam galeri ini. Lukisan lain mencatat hubungan dengan ‘orang kulit putih pertama’ di kawasan ini, yang diduga merupakan para pemburu banteng awal di tahun 1880-an.  Satu orang menaruh tangannya di saku celana, sementara orang yang lain berkacak pinggang dan ‘sedang memerintah orang Aborigin’. 

Tidak jauh dari galeri ini, Anda akan menemukan lukisan Namarrgarn Sisters – roh licik yang tinggal di bintang dan dapat membuat orang sakit dengan seutas tali.  Di situs lain di area ini, Anda dapat melihat lukisan Rainbow Serpent yang telah berusia lebih dari 23.000 tahun.  'Nyonya Bos' yang berkuasa namun diam ini dikenal sebagai Garranga'rrelito bagi suku Gagudju setempat. 

Di Nourlangie Rock, sebuah formasi luar di Arnhem Land Escarpment, Anda dapat melihat retakan yang dibuat oleh para leluhur Dreamtime dalam bentuk walabi batu bertelinga pendek.  Retakan ini masih dapat dilihat hingga hari ini, dan walabi batu sering kali terlihat di sana saat fajar dan petang hari.  Di Anbangang Gallery tak jauh dari sini, Anda dapat melihat lukisan Manusia Petir, leluhur Dreamtime yang masih mengatur badai petir dahsyat yang terjadi di setiap musim hujan.  Di dekatnya terdapat Nanguluwu, di mana seniman terkenal Najombolmi melukis figur roh Dreamtime Mimi yang melempar tombak, pada tahun 1960-an.  Anda juga dapat melihat lukisan yang menggambarkan kedatangan orang Eropa - termasuk salah satu dari kapal layar dua tiang dengan rantai jangkar dan sampan di belakangnya.

Menurut mitos Dreamtime, roh Mimi merupakan leluhur pertama yang melukis di batu.  Mereka meneruskan pengetahuan mereka kepada sejumlah orang Aborigin, sementara yang lain belajar dengan meniru kesenian Mimi.  Terkadang roh leluhur memasuki dinding batu sebagai lukisan, yang membuatnya menjadi tempat dreaming keramat. 

Dengan kedatangan orang Eropa dan perubahan gaya hidup orang Aborigin, sebagian besar tradisi seni cadas telah diganti dengan melukis pada kulit kayu, kertas dan kanvas.  Seni cadas Kakadu terbaru dilukis pada tahun 1986 dan aktivitas terakhir sebelumnya adalah karya Najombolmi pada tahun 1960-an. 

Saat ini Anda dapat menjelajahi harta karun budaya yang luas ini bersama pemandu orang Aborigin setempat.  Di antara hutan hujan Kakadu yang lebat terdapat sejarah pemukiman manusia yang sangat hebat.

 

 

Lebih Banyak Ide-Ide Khas Australia